Posesif Vs Tindak Kekerasan


oleh Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog 

Orang posesif adalah orang yang memiliki kecenderungan menahan dan mengikat apa pun yang dia rasa dia miliki, baik berupa obyek materi, seperti rumah, mobil,
dan perhiasan, maupun subyek nonmateri, pacar, suami/istri, anak, dan ibu.
Orang ini akan melindungi miliknya dengan segala daya dan upaya. Tidak satu pun
orang lain dibolehkan, katakanlah, menyentuh atau bahkan memandang sekalipun.
Dia adalah juga orang yang kikir/pelit.

Yang menjadi persoalan adalah sikap posesif yang ditujukan pada subyek
nonmateri, situasinya menjadi semakin kompleks. Penyebabnya, subyek nonmateri
adalah seseorang yang bernyawa, punya kemauan dan punya kebutuhan yang sifatnya
personal, sehingga subyek nonmateri tersebut akan bereaksi dan selalu berupaya
memenuhi kebutuhan dan kemauannya sendiri pula. Peluang terjadi bentrokan menjadi besar. Sikap posesif tersebut secara ekstrem akan tertuju kepada pacar/istri. Cinta, perhatian, waktu, dan konsentrasi pacar/istri hanya boleh ditujukan kepada dirinya seorang.

Kasus 

"Aduh, Bu, dada saya sesak sekali rasanya. Sejak pacaran dengan si B saya
benar-benar dibuatnya tidak bebas. Dia setiap hari me-"nongkrongi" saya, entah
saat saya kuliah, belajar bersama teman, pergi ke tempat kebugaran, sampai
berkunjung ke rumah nenek pun tahu-tahu dia sudah ada di halaman rumah nenek,
menunggu saya dan siap mengantar saya pulang.

Saya punya beberapa teman belajar yang akrab sehingga terkadang kami bercanda
saling dorong, saling tepak, tanpa maksud-maksud buruk. Namun, sambil menunggu
saya selesai belajar, rupanya dia memerhatikan polah teman-teman saya.
Sepulang dari belajar, pasti saya kena damprat. Dia marah, kelihatan sangat
cemburu, dan menuduhkan hal-hal yang tidak masuk akal. Pada awalnya, saya
berani melawan dengan menantangnya untuk "putus", tetapi apa yang dia lakukan?
Dia tampar saya, dia sodok pinggang saya sampai saya betul-betul kesakitan.
Kalau saya sudah menangis kesakitan, dia akan minta maaf dan memohon-mohon
untuk tidak diputuskan. Dia bilang sangat mencintai saya dan tidak bisa
melanjutkan hidup tanpa saya.

Kalau sudah sedemikian rupa, saya menjadi trenyuh dan sering terayu kembali
sehingga tidak tega memutuskan karena dia memohon sambil menciumi kaki saya
dengan menangis pula. Kami berbaikan kembali. Hal ini terjadi berulang kali.
Pada dasarnya saya juga sangat mencintainya, saya juga takut putus hubungan
dengannya, jadi selalu sambung lagi-sambung lagi walaupun saya sering sangat
tersiksa, terkekang oleh perlakuannya.

Ibu, hal lain yang ingin saya ceritakan adalah kecuali menyiksa fisik, tidak
segan pula dia memaki dan mencerca saya. Sering saya dikata-katai seperti
"dasar lonte", "dasar pelacur", dan banyak lagi kata-kata kotor lainnya. Kalau
dia mencintai saya, kok begitu perlakuannya, ya, Bu?

Apa yang harus saya lakukan, Bu? Apakah saya harus menikah dengannya? Tetapi,
kalau saya tidak menikah dengannya, bagaimana keadaan saya, Bu? Terus terang
saya sudah melakukan hubungan intim dengannya, siapa lagi laki-laki yang mau
menikahi saya, Bu?" Demikian S (22), mahasiswa semester 6 dengan bercucuran air
mata.

Dinamika 

Orang posesif pada dasarnya adalah orang yang tidak yakin diri, tidak percaya
diri, sehingga bila ada yang mencintainya dan mau menerima dirinya sebagai
pacar, maka dia akan menguasai pacarnya karena selalu diliputi ketakutan
kehilangan rasa cinta pacar.

Dia tidak ingin hubungannya terganggu kehadiran orang lain, apalagi orang
laki-laki. Dia akan membatasi pergaulan pacarnya, mengawasi perilaku pacarnya,
dan merasa cemburu sekali bila dia melihat pacarnya bahkan hanya tersenyum
sekalipun dengan kawan lawan jenis yang bertemu di jalan.

Keinginannya membuat pacarnya jera melakukan perilaku yang tidak diinginkannya
dinyatakan dengan hukuman fisik dan mental. Dia berharap dengan demikian,
pacarnya akan patuh walaupun karena takut dipukul olehnya. Orang posesif yang
sangat mencintai pacarnya dan merasa kurang diperhatikan pacarnya justru
membuat dirinya sering terpicu melakukan tindak kekerasan, baik yang bersifat
emosional dan/atau fisik dengan tujuan membuat pacarnya jera.

Solusi 

Masalah yang dihadapi S memang masalah yang benar-benar sulit. Di satu sisi S
mencintai pacarnya, pada sisi lain dia sekaligus meragukan sejauh mana rasa
cinta kasihnya diterima pacarnya mengingat dalam kenyataannya bukan rasa
tenteram berdampingan dengan pacar, melainkan tegang oleh gugatan perilakunya
yang tidak disetujui pacarnya, kecemburuan tanpa dasar, dan sering berakhir
dengan cercaan bahkan hukuman fisik.

Masalah menjadi sangat dilematis karena S telanjur melakukan hubungan intim
dengan pacar yang posesif tersebut. 

Alternatif solusi yang harus S lakukan antara lain sebgai berikut. 
1. Bila mungkin, ajaklah pacar berkonsultasi pada psikiater atau psikolog
klinis agar kesulitan psikologisnya dapat terbantu. 
2. Berikanlah ancaman tegas untuk putus bila terjadi tindak kekerasan satu kali
lagi disertai daya yang kuat untuk memantapkan ketegaran batin diri S sendiri
bila benar-benar putus hubungan mengingat S pun merasa sangat mencintai
pacarnya tersebut.
3. Bila pacarnya menuntut hubungan intim, S harus menolak tegas dengan
pertimbangan peluang masalah akan semakin rumit bila dari hubungan tersebut
terjadi kehamilan di luar nikah.
4. Yang paling tepat adalah segera memutuskan hubungan dengan tegas karena bila
sebagai pacar dia sudah berani melakukan tindak kekerasan, peluang untuk
perilaku yang semakin sadis akan terbuka lebar saat terikat tali pernikahan.
Cemburu memang bukti cinta kasih, tetapi cemburu berlebihan dengan dasar
posesif merupakan salah satu gejala gangguan mental yang bisa mencelakakan
pasangan.

Jadi, waspadalah dalam memilih pasangan dan waspadalah terhadap penyesalan
kemudian oleh hubungan intim di luar ikatan pernikahan.

sumber: http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg28355.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s