Kuliah Lagi Apa Ngga?


Kmaren temen satu kelas di kampus IT nelpon. dia mo nawarin tuk kul bareng di salah satu PTS di surabaya. katanya kita kudu bayar Rp. 8.5 jt, tanpa tambahan biaya apapun di jurusan Teknik Informatika. dalam waktu 1.5 tahun kita dijamin bakal lulus. dia pengen banyak rekan-rekan yang masuk ke sana., soalnya tambah banyak temen kan tambah asyik katanya. dan yang terpenting kuliahnya cuma hari sabtu ama minggu ajah. ah masa ia? ya!!! katanya dia seh begitu😀

Sekilas tawaran tersebut sangat menarik dan menggiurkan. bagaimana mgga?!! wong dalam waktu 1.5 tahun dan biaya awal Rp. 8.5 jt kita sudah lulus dan bakal dapetin ijazah sarjana (S1). bandingkan klo masuk ke kampus kita dolo. mo lintas jalur kudu ngerogoh kocek yang gede. untuk awal masuk saja sudah Rp. 10.4 jt (SPP + sumbangan pembangunan) belum lagi biaya SPP yang dikeluarin persemester yang berada di kisaran Rp 2.5 jt. gemana lagi klo 2 taon kaga lulus? wah spp-nya bakal nambah n membengkak dunk!!!!😀

Gambaran di atas memperlihatkan betapa buruknya dunia pendidikan di Indonesia. di satu pihak, lembaga pendidikan hanya menjual title yang dengan enaknya menaikkan biaya kuliah sehingga yang tidak memiliki dana akan kelimpungan karena tidak mampu untuk membayar biaya kuliah yang mahal. sedangkan dipihak mahasiswanya (g semwah lho :D) cuma mengharapkan gelar, tanpa mau memperdulikan dia itu pny ilmu apa ngga, yang penting dapet titel. sementara di pihak yang lain, banyak perusahaan yang membayar lebih karyawannya hanya karena berdasarkan titel yang didapet dari kampus (entah S1, S2 atau S3). sedangkan karyawan yang hanya menempuh pendidikan lebih rendah, dihargai lebih rendah dari mereka yang punya title. Ironis bukan?! hanya karena titel akan membuat gaji karyawan menjadi lebih besar! tak salah kiranya jika lembaga Perguruan Tinggi hanya menjadi mesin pencetak "title", yang berkedok pendidikan dengan harga tinggi, karena dengan titel akan menaikkan harga jual di dunia kerja.

lantas yang perlu disalahkan siapa? lembaga pendidikan kah atau perusahaan? saya kira kedua2nya salah!!! dunia pendidikan tidak seharusnya menaikkan biaya. seharusnya mereka mencetak alumnus yang memiliki pengetahuan dan skill yang bisa digunakan dan dimafaatkan di dunia kerja, bukan hanya mengharapkan duit dari mejual titel. sedangkan perusahaan tidak seharusnya membayar berdasarkan titel yang disandang, namun yang harus diperhatikan adalah skill dan pengalaman yang dimiliki oleh karyawan tsb.

jadi kuliah apa ngga? klo tujuannya untuk mendapatkan gelar saya bilang mendingan g usah kuliah deh!!! klo tujuannya pengen dapetin ilmu? ya bs saja saya kuliah, namun untuk sekarang blum bs lagi. lagian ilmu itu kan ngga hanya didapetin di dunia pendidikan. di dunia kerja pun kita juga bs dapetin ilmu koq. selain itu juga yang paling utama adalah karena alasan keuangan yang belum memungkinkan. lho kan sudah kerja? masa ngga pny tabungan? ya sebenarnya emg kerja, namun gaji yang saya dapatkan digunakan untuk membayar kebutuhan lain, misal: kredit sepeda, rek telp, listrik, beli voucher, bensin dan kebutuhan lainnya. lantas berapa uang yang bisa anda tabung? wah… jangankan bwat nabung, duit cukup untuk ampe bulan berikutnya ajah udah bersyukur bo!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s