Masalah Kelistrikan Bawean


akhir-akhir ini masyarakat bawean sibuk dengan adanya proyek pengambil alihan listrik yang dikelola oleh PT PLN ke PT AAE. sebagian dari masyarakat bawean ada yang setuju dan sebagian lagi menolak. warga yang setuju, klo dilihat berasal dari mereka yang ngga mendapatkan supply listrik dari PT PLN. mereka sudah menunggu selama 4 tahun dan sampai sekarangpun, harapan untuk memperoleh listrik PLN belum terealisasikan.

di beberapa desa yang sudah ada dan terpasang tiang dan jaringan tegangan menengah. namun, mereka tidak mendapatkan supply listrik PLN. mereka menggunakan listrik dari diesel desa. di beberapa tempat ada juga yang menggunakan listrik, yang dipakai 1 sampai 7 rumah. mereka menikmati listrik dengan berurunan solar. listrik yang mereka nikmatipun rata-rata hanya 7 jam, nyala pada jam 17:00 WIS (waktu indonesia setempat) dan padam pada pukul 22:00 wis. kemudian pada dini hari nyala pada jam 4:00 – 6:00 wis.

bagi masyarakat bawean yang menggunakan listrik PLN, merekapun belum mendapatkan supply listrik 24 jam. memang pada tahun 2005 mereka mendapatkan supply listrik 24 jam, namun pada saat ini listrik hanya menyala 17 jam. supply listrik antara jam 17:00 – 10:00 wis.

ironis memang, di satu pihak masyarakat yang mendapatkan listrik PLN dan tentu saja mendapatkan subsidi listrik, sementara masyarakat lainnya tidak dapat merasakan aliran listrik PLN, yang tentu saja tidak mendapatkan subsidi listrik. mereka yang tidak mendapatkan supply listrik PLN tentu saja menanggung beban lebih mahal bila dibandingkan yang menikmati subsidi dan listrik PLN. bahkan suatu waktu saya sempat survey ke desa yang menggunakan genset bersama-sama antara 1-7 rumah, listrik nyala 7 jam. rata-rata tiap rumah menggunakan 4 lampu hemat energi dan sebuah TV mereka membayar 200 ribu perbulan untuk urunan membeli Bahan bakar minyak. klo dihitung maka harga listrik perkWh jatuh pada kisaran 15 an ribu, bandingkan dengan harga listrik PLN yang paling tinggi hanya Rp. 1380 perkWh (tarif multiguna).

PLN Rugi

klo dilihat permasalahan terletak pada PLN yang terus menerus merugi. klo sebelumnya harga solar belum naik dan cost untuk BBM bisa ditekan. dengan adanya kenaikan BBM yang hingga mencapai kisaran Rp. 6.000 perliter,  pengeluaran untuk PLTD  yang beroperasi di Bawean pun semakin membengkak.

coba kita hitung-hitung, untuk menghasilkan 1 kWh, pembangkit (PLTD) setidaknya membutuhkan solar sekitar 0.3 x 6.000 = 1800, dengan asumsi SFC = 0.3. sedangkan penjualan listrik per-kWh oleh PLN ke masyarakat adalah:

Blok 1    = Rp.    385
Blok 2    = Rp.    445
Blok 3    = Rp.    495

berikut adalah simulasi perhitungan tarif R1 dengan daya 1300 Watt di PLN Distribusi Jatim yang saya gunakan untuk memperjelas perhitungan rekening:

Perhitungan tarif listrik tahun 2006
sama dengan TDL 2003 periode Juli – Desember

Nilai kWh Meter = 104
Faktor Kali = 1   –> Total Pemakaian = 104 kWh

K e t e r a n g a n :
1.    Biaya Beban (Rp/kVA)    = Rp.   30,100
2.     Batas Blok
Blok 1    =    20 kWH
Blok 2    =    40 kWH
Blok 3    =    Selebihnya = 44 kWH
3.     Tarif (Rp/VA)
Blok 1    = Rp.    385
Blok 2    = Rp.    445
Blok 3    = Rp.    495

Perhitungan Rupiah Rekening
1.     Biaya Beban     =     1300 / 1000 x 30100     = Rp.     39,130
2.     Blok 1     =     20 x 385     = Rp.     7,700
3.     Blok 2     =     40 x 445     = Rp.     17,800
4.     Blok 3     =     44 x 495     = Rp.     21,780
       
        Jumlah Tagihan Rekening(*)     = Rp.     86,410
                     
(* Jumlah Tagihan Rekening belum termasuk PPJ,Materai,Angsuran, dll bila ada)

untuk lebih jelasnya anda dapat mengunjungi link dibawah ini:

Simulasi perhitungan tarif listrik 

semakin terlihat jelas bahwa antara penjualan per-kWh dengan biaya BBM sangat terpaut jauh bedanya. apalagi dengan HPP (harga pokok penjualan) listrik yang mencapai Rp. 2.650,- per-kWh. coba kita hitung2 dengan BBM:

kerugian di Blok 1    = Rp.    1.800 – 385 = 1.415
kerugian di Blok 2    = Rp.    1.800 – 445 = 1.355
kerugian di Blok 3    = Rp.    1.800 – 495 = 1.305

sedangkan biaya yang dikeluarkan tidak hanya untuk operasional ttp jg maintenance. inilah yang menyebabkan PLN merugi jika menggunakan PLTD, karena harga BB memang mahal.

masalah kerugian yang diderita oleh PLN akhirnya berimbas pada masyarakat. pelanggan baru tidak bisa di layani, tambah daya tidak bisa dilayani akhirnya PLN tidak bisa melayani masyarakat secara keseluruhan (sekarnang hanya bisa melayani 9.600 pelanggan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s